Tanjung Priok, (27/4/2020) Trans-siber.com,- Ditengah-tengah pandemi Covid-19, kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara terpantau sepi alias tidak seperti biasanya.
Dalam aktivitas peliputan telah terjadi penurunan secara drastis terkait aktivitas bongkar muat di sekitar pelabuhan, kendaraan keluar masukpun tidak seramai biasanya mengawali hari pertama kerja.
Dari pantauan wartawan sampai sekitar pukul 9.00 WIB, aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan Tanjung Priok tidak ada yang signifikan.
Sepinya aktivitas sudah pasti berdampak bagi para pekerja, uang pemasukan sehari-hari tidak mereka dapatkan lagi sepeti biasaya, hal itu diakui oleh seorang yang berjaga dipintu masuk pelabuhan.
Menjelang pukul 20 WIB wartawan mendapatkan 1 lembaran surat berlogo koperasi Karya Sejahtera dari seseorang yang namanya tidak disebut.
Setelah dibaca, Surat Koperasi Karya Sejahteratersebut ternyata milik Koperasi Buruh Pelabuhan, dalam surat tersebut teryera nama, stempel dan tanda tangan dua orang pengurus, yaitu Ketua dan Sekretaris.
Sekitar Pukul 21.30 WIB, mencoba menghubungi nomor telepon yang tertera di kop surat untuk konfirmasi, namun tidak ada jawaban.
Isi Surat Koperasi Karya Sejahtera lebih jauh meguraikan beberapa poin yang beris beberapa penjelasan tentang kegiatan buruh, bongkar muat dan tarif, dll.
Berdasarkan pengamatan wartawan ada beberapa kejanggalan, seperti tidak disertkannya logo Serikat buruh/pengurus yang tergabung dalam Koperasi yang dimaksud.
Lalu kepala Surat Koperasi Karya Sejahtera di tujukan ke PT. Pelayaran SIPIL, namun dari isi surat itu tidak jelas maksud dan tujuan surat tersebut, jadinya terkesan sebagai surat kaleng yang mengundang kecurigaan.
Juga mencoba memghubungi teman yang ada disekitar pelabuhan, namun mereka tidak mengetahui surat yang dimaksud, “surat kaleng kali” kata teman menjawab telepon.
Surat yang berlogo Koperasi Buruh itu tidak menyertakan satupun serikat buruh yang ada dipelabuhan, sementara berdasarkan suber, di Pelabuhan Tanjung Priok ada beberapa assosiasi buruh yang tergabung.
Surat Koperasi Karya Sejahtera
Masak sih tidak ada satupun serikat buruh yang tergabung ? Melihat situasi dan kondisi sekarang ini, jangan sampai ada oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggungjawab yang ingin memanfaatkan buruh keadaan serikat burih (eksploitasi buruh).
Apalagi beberapa hari kedepan, Serikat buruh akan menyambut “Mei day” sebagai peringatan hari buruh secara Nasional bahkan dunia.
Belum lagi menyikapi isu-isu yang masih hangat tentang rancangan UU Omni Bus Law tentang Cipta Lapangan kerja (Cilaka) atau Cipta Kerja yang saat ini di tangan DPR dan Presiden.
Semoga surat ini tidak ada kaitannya tentang isu-isu perburuhan sekarang ini yang masih memanas ditengah-tengah pandemi wabah Coronavirus.
Sebagaimana kita ketahui Undang-Undang Nomor 17 tahun 2012 perubahan atas Undang-undang No. 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian, berdasarkan Undang-Undang tersebut pihak terkait juga perlu menjalankan fungsi pengawasan untuk dilakukan cek and ricek.
Itu sangat tepat untuk memastikan sejauh mana legalitas Koperasi tersebut menurut Undang-undang dan terlebih-lebih jangan sampai terjadi esploitasi hukum dan hak-hak buruh selaku garda terdepan dalam perekonomian Indonesia.

Resa Website