Jakarta Trans-Siber,- Ribuan nasabah Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 mulai kehilangan kesabaran menunggu kepastian tentang klaim Polish mereka.

Rasa tidak sabar mereka terwujud dari upaya-upaya yang mereka lakukan di antaranya, mareka berkirim surat ke keberapa Lembaga pemerintah untuk mendesak agar Bumiputera segera membayarkan kewajibannya.

Para nasabah yang di wakili oleh Yayat Supriatna dan Deden, Senin (24/8/2020), mengungkapkan kepada wartawan Trans-Siber, mereka sudah tiga (3) kali berkirim surat ke Lembaga pemerintah.

Seperti ke Otoritas Jasa Keuangan(OJK), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Ombudsman, Presiden Republik Indonesia juga ke pihak Bumiputera sendiri.

Surat pertama di kirimkan pada tanggal 8 July 2020, tidak ada respon/jawaban, surat ke dua (2), pada tanggal 23 July 2020, surat ketiga(3) yang di kirim pada tanggal 24/8/2020 diantar langsung ke Direktur Utama AJB Faizal Karim.

Yayat dan team berharap surat tersebut bisa di terima langsung oleh Dirut AJB, itu sebabnya mereka mengantar langsung surat tersebut ke Wisma Bumiputera di Jl. Jenderal Sudirman Kav 75 Setia budi, Jakarta.

Yayat dan team tiba di Wisma Bumiputera, melaporkn diri dibagian resepsionis dan menyampaikan keinginannya bertemu dengan Dirut Faizal Karim.

Setelah dilantai 19, Security yang bertugas mengatakan bahwa kantor AJB sudah pindah ke Jl. Wolter mongonsidi Kebayoran Baru gedung No.86, Jakarta Selatan.

Dengan rasa kecewa, Yayat dan team dengan terpaksa mendatangi kantor AJB di Jl. Wolter mongonsidi sebagaimana arahan security Wisma Bumiputera lantai 19.

Setelah Yayat dan team tiba di woltermongonsidi oleh petugas mengatakan kalau mau ketemu Dirut dan Top Manajemen lain bukan di Wolter mongonsidi tetapi di Jl. Sudirman.

Setelah melalui argumen, marah dan kesal, akhirnya Yayat dan Deden (perwakilan nasabah), di terima oleh Staff Pelayanan Rahmat.

Walaupun dengan rasa kecewa Yayat dan Deden mengutarakan bahwa mereka ingin bertemu dengan pejabat yang bisa memberikan kepastian bukan hanya sekedar janji-janji palsu.

Setelah pertemuan dengan pihak Rahmat, para nasabah kembali kecewa, karena Rahmat hanya bisa menjanjikan akan mengatur waktu pertemuan dengan Dirut setelah 1 (satu) minggu dari tanggal 24 Agustus 2020.

Ketika Deden bertanya tentang tempat/ ruang kerja Dirut dan Badan Perwakilan Anggota (BPA), Rahmat dengan tegas mengatakan di Wisma Bumiputera lantai 20 dan 21.

Yayat yang juga merupakan Ketua KORNAS, mengaku kesulitan untuk meminta penjelasan kepada pihak manajemen selama ini.

Yayat mengungkapkan pihak DPR-RI Komisi XI dapat segera merespon surat kami untuk kemudian dilakukan mediasi oleh Bumiputera dan pihak OJK.

Yayat dan Deden mengatakan, ada sebanyak 1.500 polish lain yang belum di bayar, dia memperkirakan total polish tersebut bernilai ratusan milliard untuk seluruh Indonesia.

Dari pengakuan beberapa nasabah yang bertemu dengan wartawan Trans-Siber di Jl. Woltermongonsidi hari (Senin 24/8/ 2020), mereka datang dari berbagai daerah, seperti dari Aceh, Kalimantan, Bogor, dan mayoritas dari nasabah pemegang polish pendidikan.

Persiapan untuk biaya pendidikan ke Perguruan Tinggi, karena mereka adalah masyarakat menengah kebawah.

Waetawan : Ringo

Editor : Redaksi